Pay Per Lead $1 Niihhh..

November 6, 2009

Tahun lalu Teman saya pernah mendapatkan sekitar $2000
dari program Pay Per Lead.

Sekarang ada lagi nih program serupa: Pay per Lead

Minimum pembayarannya $20 dan dilakukan via PayPal.
Dan program ini hanya berlaku sampai tanggal 10 November yaa…

Silahkan isi form di:Pay per Lead

Saya sudah ikutan,
saya ingin membuktikan bahwa
dapat duit dari internet itu adalah hal yg mungkin..

Ayo gabung…. Pay per Lead


Mamah gak Setuju!

October 22, 2009

“Mah, gimana kemaren..ktemuan dengan ikhwan calonku itu..?” tanya Risma manja.

“Ikhwan apa bakwan ? Lemes banget orangnya, kurus lagi..” kata Ibunya Risma meledek sambil memonyongkan mulutnya.

“Ih..mamah serius nihh..” rajuk Risma

“Hehe, ya mamah serius..kamu harus terima yah kata-kata mamah..” si ibu menampakkan
mimik serius kali ini. Risma menatap wajah serius ibunya.

“Risma, Mamah tegaskan kali ini Mamah bener-bener nggak setuju..” pelan-pelan tapi tegas ibunya berbicara.

Wajah Risma terlihat memelas. Tampak kekecewaan terbersit di wajahnya. Maklum saja, ini ta’aruf kelima yang dijalaninya. Haruskah ia membuka lembaran baru biodata para lelaki dari ustadzahnya ? Haruskah ia mencari lagi calon pria yang bisa mengisi lubang di hati ? Haruskah ia mencari lagi wajah yang nantinya bakal menghiasi hari-harinya ?

“Heh! Bengong lagi! ” tegur si ibu sambil menepuk paha Risma.

Terkejut Risma sambil tersipu. Ingin rasa membalas perkataan ibu. Tapi mulut terasa mengunci. Ia tak tahu apa lagi yang harus diucapkan. “Duuh, segitunya, kamu seneng banget ya sama si ikhwan ini ?” si Ibu rupanya tahu si anak kecewa. Sambil membetulkan jilbabnya, wanita paruh baya itu tersenyum lalu berkata, “Risma,,mamah bener-bener gak setuju” masih pelan seperti tadi.

“Kenapa sih Mah ?” suara Risma bergetar. Perempuan muda itu. Aktivis yang biasa membakar semangat juniornya di kampus itu suaranya bergetar, seakan ingin menangis.

“Lho, lho..kok nangis sih anak mamah tersayaang..” dekapan sang ibu membuat air mata Risma semakin berderai-derai.

“Hey, hey,,kok cengeng banget sih anak mamah..dengerin mamah sini..”

Risma masih menunduk. Mencoba hentikan isaknya, tapi tak kuasa. Ya ALLAH..

“Risma, Mamah gak setuju kalo lama-lama..” ujar si Ibu, masih pelan. Senyumnya makin lebar sambil melihat anaknya terbengong-bengong. “ee..maksud mamah ?” tanya Risma, masih dengan suara bergetar,

“Hehehe,,mamah gak setuju kalo kita tolak dia, mamah gak setuju kalo kita menunda-nunda utk mendengarkan si ikhwan mengucap ijab…” kaget juga si Risma mendengar ibunya bicara agak keras dengan senyum lebar mengembang. Tapi kali ini tangis Risma terhenti dan senyum malu-malunya menyembul.

“Mamah lihat dia memang beda dengan calon-calonmu sebelumnya.. ikhwan yang satu ini bener-bener Sho-Gun..”

“Sho-Gun..apaan tuh mah..”

“Sholeh & Gun-Thenk..” kata sang Ibu cerah.

“Aah..mamah….maksain” Risma memeluk ibunya. Pelukan bahagia. InsyaALLAH ia akan melepas masa lajangnya. Suatu saat. Sebentar lagi kita tentukan tanggalnya, gumam Risma.

sumber: tentang-pernikahan@yahoogroups.com


Membagi Waktu Berinteraksi dengan Al Quran

October 16, 2009

bismillah…

1. Tentukan skala prioritas. Di level mana kemampuan kita.
Jika bacaan masih kurang sempurna, utamakan membaca dan tangguhkan menghafal serta muroja’ah. Hal ini akan sangat berpengaruh pada kontinuitas interaksi kita. Seringkali seseorang mudah menyerah karena dia selalu ingin terburu-buru dalam banyak hal. Padahal kelancaran bacaan dan pembiasaannya merupakan faktor utama dalam menghafal Al Qur’an.

Jika antum termasuk yang mulai menghafal, untuk sementara membaca Al Qur’an boleh dikurangi kecuali ayat dan surat yang akan dihafal, tapi mulailah seimbangkan antara menghafal dengan muroja’ah. Muroja’ah merupakan aktivitas yang [seringkali] lebih berat dibanding menghafal. Maka harus dilatih secara intens.

Dan jika hafalan sudah banyak, utamakan muroja’ah dibanding menambah hafalan baru [kecuali kita berada di lingkungan khusus, seperti di pesantren, misalnya]. Hal ini untuk menjaga hafalan kita yang lama. Jangan sampai kita menambah hafalan baru tapi melupakan hafalan lama. Intinya adalah kesabaran dan jangan tergesa-gesa.

2. Tentukan waktu wajib.
Cari waktu kita dalam sehari yang merupakan waktu paling luang dan paling efektif untuk berinteraksi dengan Al Qur’an. Dalam arti, di waktu tersebut tidak ada hal-hal lain yang akan mengganggu aktivitas kequr’anan kita. Lalu, patuhi waktu wajib tersebut. jika kita melanggarnya [tidak berinteraksi pada waktu tersebut], usahakan untuk mengqadha sebagai bentuk keseriusan kita.

Waktu wajib bagi setiap orang tentu berbeda. Ada yang sebelum subuh, ada yang di waktu istirahat kantor, ada yang sebelum tidur, ada yang tiap ba’da shalat. Semuanya bergantung pada aktivitas kita. Yang jelas waktu khusus itu harus ada.

Tapi usahakan untuk menyediakan beberapa saat [meski cuma seperempat jam, misalnya] di sepertiga malam kita. Itulah waktu yang paling utama.

3. Ukur kemampuan kita.
Cobalah ukur dulu kemampuan tilawah/menghafal kita dengan membaca/menghafal di saat kondisi kita sedang normal. Titik di mana kita mulai merasa lelah, di sanalah kemampuan kita saat itu. Mungkin ada yang baru satu halaman sudah kehilangan konsentrasi, ada yang satu juz masih bersemangat. Itulah jumlah waktu interaksi kita dalam sehari pada saat itu. Ada yang setengah jam, satu jam.

Tapi ingat, jangan mengukur dengan “kekuatan kita saat bersemangat”, karena kita faham bahwa kondisi kita naik turun. Tapi juga jangan menggunakan standar yang terlalu sedikit, karena khawatir kita tidak terdorong untuk bekerja keras.

Untuk seseorang yang bekerja, misalnya. Jika dia sedang fokus pada belajar membaca, maka mulailah dari satu lembar perhari. Jika waktunya lebih luang, bisa dimulai dengan jumlah yang lebih banyak. Setelah satu bulan dan terlihat istiqomah, mulailah tambah secara bertahap. Lebih baik jika tilawahnya itu tercatat.

4. Sekarang mulailah!
Satu niat baik tidak akan berkembang jika tidak direalisasikan. Setelah antum menentukan skala prioritas, menentukan waktu wajib, dan menyesuaikannya dengan kemampuan kita, maka segeralah mulai dengan segera:

- Jika antum sedang belajar membaca
Porsi tilawah harus lebih banyak. Jangan terburu-buru untuk menghafal. Jika waktu wajib antum satu jam, misalnya, maka bagi tigalah waktu tersebut:
— setengah jam untuk tilawah yang mengutamakan jumlah yang banyak.
— seperempat jam untuk tilawah yang memfokuskan pada tajwid [cukup satu/dua halaman yang diulang secara tartil]
— seperempat jam untuk tilawah yang disertai terjemahan [lebih baik lagi jika kita memahami ayat secara langsung]

- Jika antum sudah mulai menghafal
Waktu interaksi idealnya sudah meningkat. Kita asumsikan saja dua jam. Jika kita bagi tiga:
— setengah jam untuk menambah hafalan baru
— setengah jam untuk tilawah biasa
— satu jam untuk muroja’ah: murojaa’ah sekilas dan muroja’ah tarsikh [yakni muroja'ah yang jumlahnya sedikit tapi berkualitas, sehingga ayat yang dimuroja'ah tarsikh selalu siap diuji]

- Jika hafalan sudah banyak
Waktu interaksi lebih meningkat lagi. Dengan jumlah muroja’ah mendominasi waktu kita.

- Jika sudah selesai hafalan
Alangkah baiknya jika berbagi pengalaman di forum ini dan memberikan taushiyahnya untuk kita semua Senyum manis

5. Istiqomah.
Niatkanlah bahwa kita melakukan semua ini sebagai sebuah ibadah. Seperti halnya shalat. Kita telah melakukannya puluhan tahun dan kita terus melaksanakannya. Karena kita meyakini kewajiban dan keutamaannya. Atau kita yang sudah bekerja bertahun-tahun, setiap hari melakukan rutinitas yang sama, tapi kita tetap istiqomah, karena kita benar-benar membutuhkannya.

Perasaan semacam ini harus benar-benar dihadirkan, karena membaca dan menghafal Al Qur’an adalah aktivitas seumur hidup. Ukurannya adalah kematian kita. Jadi, bersabarlah!

Demikian yang disampaikan oleh Ust. Abdul Aziz Abdur Rouf dan Ust. Ahmad Muzzammil kepada kami.
Wallahu A’lam
rickyfirman

n.b : rickyfirman adalah id seorang ustadz Tahsin di Al Hikmah