bismillah…
1. Tentukan skala prioritas. Di level mana kemampuan kita.
Jika bacaan masih kurang sempurna, utamakan membaca dan tangguhkan menghafal serta muroja’ah. Hal ini akan sangat berpengaruh pada kontinuitas interaksi kita. Seringkali seseorang mudah menyerah karena dia selalu ingin terburu-buru dalam banyak hal. Padahal kelancaran bacaan dan pembiasaannya merupakan faktor utama dalam menghafal Al Qur’an.
Jika antum termasuk yang mulai menghafal, untuk sementara membaca Al Qur’an boleh dikurangi kecuali ayat dan surat yang akan dihafal, tapi mulailah seimbangkan antara menghafal dengan muroja’ah. Muroja’ah merupakan aktivitas yang [seringkali] lebih berat dibanding menghafal. Maka harus dilatih secara intens.
Dan jika hafalan sudah banyak, utamakan muroja’ah dibanding menambah hafalan baru [kecuali kita berada di lingkungan khusus, seperti di pesantren, misalnya]. Hal ini untuk menjaga hafalan kita yang lama. Jangan sampai kita menambah hafalan baru tapi melupakan hafalan lama. Intinya adalah kesabaran dan jangan tergesa-gesa.
2. Tentukan waktu wajib.
Cari waktu kita dalam sehari yang merupakan waktu paling luang dan paling efektif untuk berinteraksi dengan Al Qur’an. Dalam arti, di waktu tersebut tidak ada hal-hal lain yang akan mengganggu aktivitas kequr’anan kita. Lalu, patuhi waktu wajib tersebut. jika kita melanggarnya [tidak berinteraksi pada waktu tersebut], usahakan untuk mengqadha sebagai bentuk keseriusan kita.
Waktu wajib bagi setiap orang tentu berbeda. Ada yang sebelum subuh, ada yang di waktu istirahat kantor, ada yang sebelum tidur, ada yang tiap ba’da shalat. Semuanya bergantung pada aktivitas kita. Yang jelas waktu khusus itu harus ada.
Tapi usahakan untuk menyediakan beberapa saat [meski cuma seperempat jam, misalnya] di sepertiga malam kita. Itulah waktu yang paling utama.
3. Ukur kemampuan kita.
Cobalah ukur dulu kemampuan tilawah/menghafal kita dengan membaca/menghafal di saat kondisi kita sedang normal. Titik di mana kita mulai merasa lelah, di sanalah kemampuan kita saat itu. Mungkin ada yang baru satu halaman sudah kehilangan konsentrasi, ada yang satu juz masih bersemangat. Itulah jumlah waktu interaksi kita dalam sehari pada saat itu. Ada yang setengah jam, satu jam.
Tapi ingat, jangan mengukur dengan “kekuatan kita saat bersemangat”, karena kita faham bahwa kondisi kita naik turun. Tapi juga jangan menggunakan standar yang terlalu sedikit, karena khawatir kita tidak terdorong untuk bekerja keras.
Untuk seseorang yang bekerja, misalnya. Jika dia sedang fokus pada belajar membaca, maka mulailah dari satu lembar perhari. Jika waktunya lebih luang, bisa dimulai dengan jumlah yang lebih banyak. Setelah satu bulan dan terlihat istiqomah, mulailah tambah secara bertahap. Lebih baik jika tilawahnya itu tercatat.
4. Sekarang mulailah!
Satu niat baik tidak akan berkembang jika tidak direalisasikan. Setelah antum menentukan skala prioritas, menentukan waktu wajib, dan menyesuaikannya dengan kemampuan kita, maka segeralah mulai dengan segera:
- Jika antum sedang belajar membaca
Porsi tilawah harus lebih banyak. Jangan terburu-buru untuk menghafal. Jika waktu wajib antum satu jam, misalnya, maka bagi tigalah waktu tersebut:
— setengah jam untuk tilawah yang mengutamakan jumlah yang banyak.
— seperempat jam untuk tilawah yang memfokuskan pada tajwid [cukup satu/dua halaman yang diulang secara tartil]
— seperempat jam untuk tilawah yang disertai terjemahan [lebih baik lagi jika kita memahami ayat secara langsung]
- Jika antum sudah mulai menghafal
Waktu interaksi idealnya sudah meningkat. Kita asumsikan saja dua jam. Jika kita bagi tiga:
— setengah jam untuk menambah hafalan baru
— setengah jam untuk tilawah biasa
— satu jam untuk muroja’ah: murojaa’ah sekilas dan muroja’ah tarsikh [yakni muroja'ah yang jumlahnya sedikit tapi berkualitas, sehingga ayat yang dimuroja'ah tarsikh selalu siap diuji]
- Jika hafalan sudah banyak
Waktu interaksi lebih meningkat lagi. Dengan jumlah muroja’ah mendominasi waktu kita.
- Jika sudah selesai hafalan
Alangkah baiknya jika berbagi pengalaman di forum ini dan memberikan taushiyahnya untuk kita semua Senyum manis
5. Istiqomah.
Niatkanlah bahwa kita melakukan semua ini sebagai sebuah ibadah. Seperti halnya shalat. Kita telah melakukannya puluhan tahun dan kita terus melaksanakannya. Karena kita meyakini kewajiban dan keutamaannya. Atau kita yang sudah bekerja bertahun-tahun, setiap hari melakukan rutinitas yang sama, tapi kita tetap istiqomah, karena kita benar-benar membutuhkannya.
Perasaan semacam ini harus benar-benar dihadirkan, karena membaca dan menghafal Al Qur’an adalah aktivitas seumur hidup. Ukurannya adalah kematian kita. Jadi, bersabarlah!
Demikian yang disampaikan oleh Ust. Abdul Aziz Abdur Rouf dan Ust. Ahmad Muzzammil kepada kami.
Wallahu A’lam
rickyfirman
n.b : rickyfirman adalah id seorang ustadz Tahsin di Al Hikmah